Rencana Pola Ruang

Rencana Pola Ruang

Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budi daya yang belum ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana tata ruang wilayah provinsi. Pola ruang wilayah kabupaten dikembangkan dengan sepenuhnya memperhatikan pola ruang wilayah yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana tata ruang wilayah provinsi serta karakteristik wilayahnya.

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN LINDUNG

Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan berdasarkan wilayah administratif, kegiatan kawasan, maupun nilai strategis kawasan. Jenis  kawasan lindung yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang antara lain :
(1)    Kawasan  hutan lindung
(2)    Kawasan perlindungan setempat, antara lain sempadan sungai, dan kawasan sekitar mata air; 
(3)    Kawasan suaka alam dan cagar alam, yaitu, kawasan suaka marga satwa; 
(4)    Kawasan rawan bencana alam, antara lain, kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan banjir; dan
(5)    Kawasan lindung geologi, antara lain, kawasan cagar alam geologi dan kawasan rawan bencana alam geologi.

KAWASAN HUTAN LINDUNG

Hutan lindung merupakan kawasan hutan yang karena keadaan sifat alamnya diperuntukkan guna pengaturan tata air, pencegahan bencana banjir dan erosi serta pemeliharaan kesuburan tanah. Hutan lindung merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna pembangunan berkelanjutan. Kawasan-kawasan yang telah ditetapkan sebagai lokasi hutan lindung dan memperkirakan kebutuhan pembangunan di masa datang, maka kawasan hutan lindung di Kabupaten Pegunungan Bintang tersebar seluruh distrik dengan luas kawasan hutan lindung sebesar 5699.46 Km2 atau 36,34% dari luas total wilayah.

KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT

Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Pegunungan Bintang terdiri dari kawasan yang meliputi kawasan sekitar mata air dan kawasan sempadan sungai. Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri-kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. 
Rencana penetapan kawasan lindung berupa sempadan sungai diarahkan pada DAS dan Sub DAS. Untuk DAS lebar sempadan yang ditetapkan adalah 100 meter pada kanan kiri sungai, yang tergolong kedalam sistem DAS di wilayah Daerah Aliran Sungai Sifik, Digul, Oktaru, Okngam, Nongme, Oklip, Armase, Kameme dan Okyako. Untuk sungai kecil atau anak sungai lebar sempadan yang ditetapkan adalah 50 meter dari tepi sungai. Kawasan sempadan sungai tersebar di setiap distrik dengan luas kawasan sebesar 509.18 km2 atau 3,25% dari luas total wilayah.
Kawasan sekitar mata air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Kriteria kawasan sekitar mata air, yaitu sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. Pemanfaatan ruang kawasan sekitar mata air di Kabupaten Pegunungan Bintang direncanakan pada kawasan sekitar mata air yang terdapat di Okyu, Oksob, Oksibil, Okbon, Okdenom, Oksakub, Oknimno, Oknangul, Okik, Okhika, Okngo, Okbem, Oklip, Oksamol, Oknonka, Okautaka, Okbi, Okbab, Meme, Ailme, Kameme, Oku, Okpeteng dan Okil/Pamil.

KAWASAN SUAKA ALAM DAN CAGAR ALAM

Kawasan Cagar Alam merupakan kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Kawasan cagar alam dikembangkan dalam rangka menjaga ekosistem hutan dan segala isinya serta memberikan kenyamanan bagi penduduk setempat dan pengunjung Cagar Alam.
Kawasan Suaka Alam di Kabupaten Pegunungan bintang berdasarkan PP No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 2005-2025 dan rencana pola ruang kawasan lindung dalam RTRW Provinsi Papua 2011-2031 adalah Suaka Margasatwa Mamberamo-Foja dan Suaka Margasatwa Jayawijaya/Pegunungan Bintang. Kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo Foja terdapat di Distrik Batani.
Kawasan Suaka Margasatwa Jayawijaya terdapat di Distrik Batani, Distrik Pamek, Distrik Eupamek, Distrik Bime, Distrik Nongme, Distrik Borme, Distrik Teraiplu, Distrik Aboy, Distrik Okbab, Distrik Oksop, Distrik Okbibab, Distrik Okhika, Distrik Okbemtau, Distrik Kiwirok, Distrik Okinka, Distrik Kiwirok, Distrik Okbape, dan Distrik Oksebang. Total luas kawasan cagar alam di Kabupaten Pegunungan Bintang setelah mengakomodir permukiman perkampungan adalah sebesar 4562.84 km2 atau 20,09% dari luas total wilayah.

KAWASAN RAWAN BENCANA ALAM

Rencana perlindungan terhadap Kawasan Rawan Bencana Alam dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana. Kawasan rawan bencana di Kabupaten Pegunungan Bintang meliputi Kawasan rawan bencana longsor dan banjir. Kawasan rawan tanah longsor terdapat  di Kiwirok, Kiwirok Timur, Oklip, Oksebang, Okaon, Oksop, Alemsom, Bime, Borme, Okbab, Weime, Eipumek, Pamek, Nongme, Batani, Bime, Okbape, Okbibab, Pepera, Oksamol, Awimbon,  Kawor dan Okhika. Kawasan rawan banjir terdapat di Batani, Awimbon, Aboy, Batom, Oksibil, Teiraplu, dan Mofinop. Kawasan rawan banjir Distrik Oksibil dan Batom khususnya di Bandara Oksibil dan Batom.

KAWASAN LINDUNG GEOLOGI

Kawasan lindung geologi di Kabupaten Pegunungan Bintang terdiri dari kawasan cagar alam geologi dan kawasan rawan bencana alam geologi. Kawasan cagar alam geologi di Kabupaten Pegunungan Bintang berupa kawasan karst yang merupakan kawasan keunikan bentang alam. Kawasan karst terdapat di distrik Oksibil, Okaon, Oksop, dan Oksebang.
Kawasan rawan bencana geologi di Kabupaten Pegunungan Bintang berupa kawasan rawan gempa bumi dan gerakan tanah. Lokasi kawasan rawan bencana ini terdapat di daerah barat Kabupaten Pegunungan Bintang yang merupakan kawasan pegunungan yang terjal. Kawasan rawan gempa bumi terdapat di Distrik Pamek, Nongme, Batani, Borme, Weime, Okbab, Bime, Eupumek, Okbape, Okbibab, Oksop, Okaon, Oksebang, Oklip, Pepera, Oksamol, Okhinka, Kiwirok, Alemsom, Awimbon, dan Kawor.

Sebaran kawasan lindung di Kabupaten Pegunungan Bintang dapat dilihat pada Gambar 4.1 di bawah ini. 

Gambar 4.1 Peta Kawasan Lindung

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA

Kawasan budidaya merupakan kawasan di luar kawasan lindung, yang mempunyai fungsi utama budidaya, antara lain seperti kawasan hutan produksi, pertanian, pertambangan, pariwisata, permukiman dan kawasan budidaya lainnya yaitu kawasan industri, serta perdagangan dan jasa.

KAWASAN PERUNTUKAN  HUTAN PRODUKSI    

Hutan produksi merupakan kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk pembangunan industri dan ekspor. Kawasan hutan produksi akan dikembangkan dalam rangka mendukung perekonomian wilayah dan kelestarian alam dan lingkungan (ekosistem).
A.     Rencana Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Tetap
Berdasarkan RTRW Provinsi Papua 2011-2030 dan mempertimbangkan kebutuhan ruang untuk pembangunan di masa yang akan datang, rencana kawasan hutan  produksi di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah seluas 2320.40 Km2 atau 14,80 % dari total luas wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. Pengembangan kawasan hutan produksi tetap diarahkan pada optimalisasai pengelolaan kawasan yang sudah ada. Usulan perubahan hutan produksi tetap baru harus benar benar mengikuti aturan peraturan dan perundangan yang berlaku. Lokasi sebaran kawasan hutan produksi berada di lokasi  bagian utara Kabupaten Pegunungan Bintang dengan Kabupaten Keerom dan Jayapura. 
B.     Rencana Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Terbatas 
Berdasarkan RTRW Provinsi Papua 2011-2030 dan mempertimbangkan kebutuhan ruang untuk pembangunan di masa yang akan datang, rencana kawasan hutan produksi terbatas di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah seluas 1328.34 Km2 atau 8,47% dari total luas wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang Mempertimbangkan kondisi alam wilayah Pegunungan Bintang yang lebih cocok untuk kawasan lindung maka rencana pengembangan kawasan produksi terbatas dimasa mendatang minimal dapat dipertahankan pada luasan tersebut.
Lokasi sebaran kawasan hutan produksi terbatas adalah di bagian utara kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Keerom dan sedikit di bagian selatan di Distrik Awimbon. Alokasi rencana pengembangan kawasan hutan produksi dapat dilihat pada peta Rencana Pola Ruang.
C.     Rencana Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Konversi
Adapun pengembangan kawasan hutan produksi konversi di Kabupaten Pegunungan Bintang diarahkan untuk Hutan Produksi Konversi diarahkan bagian tengah dan selatan wilayah. Luas peruntukkan kawasan ini adalah sekitar  489.84 Km2 atau 3,12% dari total luas wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. Mempertimbangkan kebutuhan pembangunan di masa yang akan datang, pengembangan kawasan hutan produksi konversi diarahkan untuk perluasan kawasan sehingga lebih mengakomodasikan tuntutan kebutuhan sektor lainnya. Usulan perubahan hutan produksi tetap baru harus benar benar mengikuti aturan peraturan dan perundangan yang berlaku. Sebaran kawasan hutan produksi konversi terkonsentrasi di bagian selatan khususnya di Distrik Iwur, Oksibil, Awimbon, dan Alemsom.

KAWASAN PERUNTUKAN PERTANIAN

Sebagaimana diketahui kawasan tanaman pangan di Kabupaten Pegunungan Bintang tidak terlalu luas dibandingkan luas total kabupaten tersebut, tetapi kontribusinya terhadap ketahanan pangan di wilayah tersebut sangat besar. Kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Pegunungan Bintang diarahkan untuk budidaya tanaman pangan dan holtikultura.
A.     Rencana Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan 
Kawasan pertanian tanaman pangan adalah kawasan yang berfungsi sebagai tempat pengusahaan tanaman padi atau tanaman pangan lainnya guna menghasilkan bahan pangan, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk dijual. Komoditas utama budidaya tanaman pangan yang dikembangkan adalah sagu, padi ladang, ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, dan talas.  
Rencana pengembangan kawasan ini di semua distrik. Arahan pengembangan pertanian di Kabupaten Pegunungan Bintang terbagi menjadi pertanian tanaman pangan yang terdapat di dataran rendah dan dataran tinggi. 
1.    Pada kawasan pertanian tanaman pangan di dataran rendah, kawasan menempati wilayah datar sampai agak datar (<3%) dengan ketinggian < 700 mdpl. Komoditas utama yang dapat dikembangkan sagu, jagung, padi gogo, ubi jalar, kedelai, dan talas. Ditinjau biofisik lingkungan, kebutuhan air untuk tanaman dapat dipenuhi sumberdaya air permukaan di sekitar wilayah pengembangan tanaman pangan. 
2.    Pada kawasan pertanian tanaman pangan di dataran tinggi, kawasan menempati wilayah datar sampai agak datar (<3%) dengan ketinggian > 700 m dpl. Komoditas utama yang dapat dikembangkan adalah padi ladang, jagung, dan kedelai. Ditinjau biofisik lingkungan dan target luas daerah irigasi, kebutuhan air untuk tanaman dapat dipenuhi dari sumberdaya air permukaan disekitar wilayah pengembangan tanaman pangan. 
Pada dasarnya rencana pengembangan kawasan ini di semua distrik, namun untuk pengembangan yang lebih luas, kawasan pertanian tanaman pangan akan diarahkan pada kawasan pertanian di Distrik Kawor, Iwur, Kolomdol, Alemsom dan Awimbon.
B.     Rencana Pengembangan Kawasan Hortikultura
Kawasan pertanian untuk hortikultura berupa ladang, tegalan, kebun, maupun perkarangan terutama tersebar di sekitar permukiman penduduk yang terdapat di Distrik Kiwirok Timur, Batom, Iwur, Kawor, Awimbon, Okbape, Aboy, Teiraplu, Batani, Murkim, Mofinop, Nongme, dan Jetfa. Namun untuk pengembangan yang lebih luas, kawasan pertanian lahan holtikultura akan diarahkan pada kawasan pertanian di Distrik Kawor, Iwur, Kolomdol, Alemsom dan Awimbon.
Jenis tanaman yang diusahakan antara lain rambutan, matoa, nangka, pisang, sayuran, pinang dan jeruk. Sedangkan untuk tanaman sayuran adalah kentang, tomat, bawang merah, bawang putih, bawang daun, kubis, cabe, ketimun, sawi, terong, kacang panjang, labu siam, bayam, wortel, dan lain-lain.
Mengingat lokasi-lokasi pertanian hortikultura cenderung berdekatan dengan hutan lindung dan kawasan resapan air, maka pola pengusahaannya harus sejalan dengan ketentuan-ketentuan konservasi yang ditetapkan baik oleh pemerintah  maupun masyarakat. Pada kawasan ini selain untuk kegiatan pertanian hortikultura, juga diperkenankan mengusahakan tanaman keras yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, dan apabila memenuhi syarat dapat diberikan hak guna usaha (HGU). Selain itu, pada kawasan ini dapat dikembangkan kegiatan produksi lainnya selama tidak merusak fungsi ekosistem wilayah atau menurunkan daya dukung kawasan. 
C.     Rencana Kawasan Peruntukan Perkebunan    
Pertanian tanaman tahunan dapat diwujudkan dalam bentuk perkebunan, baik yang diusahakan oleh rakyat maupun perusahaan. Kawasan ini merupakan kawasan penyangga bagi kawasan hutan lindung. Jenis tanaman yang diperkenankan adalah tanaman tahunan yang disertai dengan upaya-upaya pencegahan erosi. Luas kawasan peruntukan perkebunan di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah sebesar 277.24 Km2 atau 1,77% dari total luas wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang.
Di Kabupaten Pegunungan Bintang, kawasan perkebunan diarahkan terutama pada wilayah bertopografi landai hingga datar yang terdapat di Distrik Aboy, Batom, Awimbon, Kawor, Okbape, Batani, Teiraplu, dan Mofinop, sesuai dengan sifat fisik dan kimia tanah dengan komoditas pengembangannya di Distrik Aboy, Batom Awimbon, Kawor, Okbape, Batani, Teiraplu, dan Mofinop dengan komoditas berupa kopi, vanili, kakao, karet, markisa teh, apel, dan buah merah. Komiditas utama yang akan dikembangkan adalah kopi dan Vanili. Kawasan perkebunan utama akan dikembangkan di Distrik Kawor, Iwur, Kolomdol, Alemsom dan Awimbon. Selain itu juga didasarkan pertimbangan agar intensifikasi dan ekstensifikasi pengusahaan tanaman tahunan tidak menimbulkan konflik dengan keberadaan hutan lindung dan kawasan resapan air.
D.     Rencana Peruntukan Kawasan Peternakan
Kawasan peternakan adalah kawasan yang fungsi utamanya diperuntukkan bagi kegiatan peternakan dan segala kegiatan penunjangnya. Tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk memanfaatkan lahan yang sesuai untuk kegiatan peternakan dalam menghasilkan produksi peternakan seperti ternak dan hasil ternak  lainnya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Kawasan ini merupakan kawasan padang rumput atau semak belukar cukup luas (minimum dua hektar), yang diperuntukkan bagi melepaskan dan sekaligus memelihara ternak. Lokasi untuk kawasan peternakan diutamakan pada tanah yang tidak produktif dan terpisah dari lahan pertanian penduduk sekitarnya.
Kawasan peternakan di Kabupaten Pegunungan Bintang yang dapat dikembangkan di setiap distrik dalam luasan dan jumlah yang tidak terlalu besar, baik itu untuk ternak besar, ternak kecil maupun ternak unggas.

KAWASAN PERUNTUKAN PERTAMBANGAN

Tujuan pengelolaan kawasan pertambangan adalah untuk memanfaatkan sumberdaya mineral, energi dan bahan galian lainnya, untuk masyarakat, dengan tetap memelihara sumberdaya sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan. Suatu tempat dapat dinyatakan sebagai tempat penambangan apabila nilai bahan galian yang ada bernilai ekonomis lebih tinggi dari nilai kegiatan yang ada di atas tanah. Penggalian bahan tambang dapat dilakukan secara besar-besaran oleh perusahaan berbadan hukum atau kecil-kecilan oleh perorangan dengan luas minimum 10 hektar.  
Kawasan pertambangan adalah daerah-daerah yang memiliki potensi tambang yang layak secara ekonomis untuk ditambang sehingga arahan lokasinya akan mengikuti lokasi bahan tambang. Potensi sumber daya mineral di Kabupaten Pegunungan Bintang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. Akan tetapi perlu diingat bahwa semua potensi sumber daya mineral yang ada tersebut kegiatan penambangannya perlu dilengkapi dengan studi AMDAL terlebih dahulu.  Dalam 10 (sepuluh) tahun mendatang pengusahaan pertambangan diarahkan pada kawasan di sekitar Gunung Antarez hingga pada ketinggian tidak lebih dari 2000 m dari permukaan laut.  Potensi tambang yang terdapat di Kabupaten Pegunungan Bintang berupa:
1.    Kawasan pertambangan mineral logam dan batubara yang terdiri dari :
a.    Kawasan Pertambangan mineral logam terdiri dari emas, perak, besi, tembaga, dan mineral logam lainnya terdapat di :
(1)    Kawasan Gunung Antarez yang terdapat di Distrik Kiwirok Timur, Oklip, Oksamol, Pepera, dan Tarup. 
(2)    Kawasan Gunung Aplim Apom/ Puncak Mandala yang terdapat di Distrik Bime, Borme, Eipumek, Weime,  Pamek, Okbap, Okbibab, Alemsom, Oksop, Oksebang, Serambakon, dan Okbape.
b.    Kawasan Pertambangan batubara terdapat di sekitar Distrik Awimbon, Kawor, Okbape bagian selatan, dan Iwur 
2.    Kawasan peruntukan pertambangan minyak bumi yang terdapat di sekitar Distrik Awimbon.
3.    Kawasan peruntukan pertambangan bahan galian industri yang terdapat di Oksibil, Kiwirok Timur, Oklip, Batom, Okbemtau, Aboy, Okaom, Oksop, Okbibab, Okbab, Okhika, Alemsom berupa marmer, pasir, batu, lempung, batu apung (pumice), batu andesit, dan obsidian

RENCANA KAWASAN PERUNTUKKAN INDUSTRI

Kawasan peruntukan industri adalah bentangan lahan yang diperuntukan bagi kegiatan industri berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/kota yang bersangkutan. Pembangunan Kawasan Industri bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan industri di daerah, memberikan kemudahan bagi kegiatan industri, mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di Kawasan Industri, meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan.
Fungsi kawasan industri yang diarahkan untuk Kabupaten  Pegunungan Bintang adalah kawasan industri yang mengolah produk-produk pertanian, perkebunan,  dan hasil hutan dari berbagai  wilayah  di Kabupaten.  Untuk itu, aksesibiltas antara kawasan industri dengan kawasan-kawasan sentra produksi yang memasok produk pertanian, perkebunan,  kehutanan, dan perikanan perlu ditingkatkan untuk menjamin kelancaran  pasokan bahan mentah dan bahan bakunya
Pengembangan Kawasan industri terpadu di Kabupaten Pegunungan Bintang diharapkan dapat mengacu pada pengembangan Ecology Industrial Park guna meminimalisasi dampak lingkungan  yang dapat ditimbulkannya.
Rencana pengembangan kawasan industri di wilayah Pegunungan Bintang  adalah sebagai berikut :
(1)    Kawasan peruntukan industri besar terdapat di Iwur, Tarup, Oksamol, Awimbon. Kawasan industri dalam skala besar ini diarahkan untuk industri pertambangan mengingat potensi pertambangan di distrik-distrik tersebut. 
(2)    Kawasan peruntukan industri sedang terdapat di Oksibil, Batom, Teiraplu, Batani, dan Murkim. Industri dalam skala sedang berupa industri pengolahan hasil kehutanan berupa industri Plywood akan dikembangkan di Distrik Tarup.
(3)    Kawasan peruntukkan industri rumah tangga tersebar di setiap distrik.

KAWASAN PERUNTUKAN PARIWISATA        

Klasifikasi kawasan pariwisata sesuai dengan Permen PU No. 16/2009 yaitu peruntukan  pariwisata budaya, pariwisata alam dan pariwisata buatan. Rencana pengembangan kawasan pariwisata di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang adalah sebagai berikut :
1.    Kawasan Wisata Budaya, yang terdapat di Distrik Serambakon dan Bime berupa miniatur adat.
2.    Kawasan Wisata  Alam, yang terdiri dari : 
a.    Air terjun bawah tanah di Serambakon
b.    Gua Kelelawar di Kalomdol dan Batom 
c.    Salju abadi di Puncak Mandala yang terdapat di Bime dan Oksop
d.    Wisata arung jeram di Sungai Armase dan Sungai Sifik
e.    Wisata lintas alam di Pegunungan karst di Oksibil, Okaon, Oksop, dan Oksebang 
f.    Terowongan alam di Oksebang
g.    Gua Sibilbuk di Oksibil dengan panjang gua kurang lebih 10 km.

KAWASAN PERUNTUKAN PERMUKIMAN  

Berdasarkan tipologinya terdapat dua macam sifat perumahan, yaitu perumahan perdesaan dan perumahan perkotaan. Di wilayah perkotaan dan perdesaan perumahan dapat tumbuh secara alami, sedangkan pembangunan perumahan secara terencana cenderung terjadi di perkotaan yang dilaksanakan oleh pengembang, Pola pengembangan perumahan di kawasan pedesaan cenderung seporadis menyebar di seluruh wilayah desa. Sedangkan pola pengembangan perumahan di wilayah perkotaan cenderung mengikuti pertumbuhan jaringan infrstruktur.
A.     Rencana Kawasan Peruntukan Permukiman Perkotaan
Kawasan permukiman perkotaan di kabupaten dapat diidentikkan dengan kota distrik. Tingkat perkembangan masing-masing kota distrik ini berada sesuai dengan fungsi, potensi lokasinya. Kota-kota yang dalam perkembangannya terlihat cenderung akan lebih padat lagi adalah Batom di Distrik Batom, Oksibil di Distrik Oksibil dan Distrik Kalomdol, Teraiplu di Distrik Teraiplu, Iwur di Distrik Iwur, Awimbon di Distrik Awimbon, Kiwirok di Distrik Kiwirok, Okbibab di Distrik Okbibab, Bias di Distrik Murkim, Eupamek di Distrik Eupamek; dan Borme di Distrik Borme.
Kawasan permukiman di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang sebagian besar terdapat di daerah ibukota setiap distrik. Hampir seluruh kawasan-kawasan permukiman tersebut masih perlu dibangun begitu juga dengan sarana dan prasarana lingkungan permukimannya, terutama kawasan-kawasan permukiman yang terletak di Distrik Oksibil. Hal ini dipengaruhi oleh lebih pesatnya pertumbuhan kawasan tersebut dibandingkan distrik lainnya, yang mengakibatkan tingginya aktivitas penduduk dan pertumbuhan jumlah penduduknya, serta pertambahan luas dan tingkat kepadatan kawasan permukimannya. Keberadaan kegiatan perumahan di ibukota distri lainnya akan terus ditingkatkan dengan meningkatkan pelayanan prasarana permukiman. Untuk rencana kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Pegunungan Bintang direncanakan di setiap kota distrik. 
B.     Rencana Kawasan Peruntukan Permukiman Perkampungan
Sebagian besar wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki karakteristik sebagai wilayah perdesaan yang dikenal dengan sebutan kampung. Akibat kondisi medan yang berat, permukiman pada kampung-kampung tersebut tersebar secara berkelompok pada lokasi-lokasi yang terpencar dan terpencil.  Akibatnya masih banyak masyarakat yang belum tersentuh kegiatan pembangunan dan pelayanan pemerintahan  yang selama ini lebih terkonsentrasi di pusat-pusat distrik. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan jalur-jalur perintis, pemberdayaan masyarakat, serta penyediaan pelayanan kebutuhan dasar perlu diprioritaskan demi membuka keterisolasian wilayah, terutama bagi permukiman-permukiman di wilayah pegunungan. 
Kawasan permukiman perkampungan di Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan salah satu  simpul distribusi dan produksi ekonomi yang paling penting. Oleh karena itu pengembangan kawasan permukiman perdesaan di wilayah ini diarahkan sebagai berikut :
(1)    Pengembangan Kawasan permukiman diarahakan mendukung untuk peningkatan produktivitas pertanian dengan menyiapkan dan memantapkan kawasan-kawasan sentra produksi pertanian dan perkebunan.
(2)    Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan dilakukan dengan Peningkatan sarana dan  prasarana  perdesaan sehingga mendukung proses peningkatan produktivitas perdesaan tersebut, terutama menyangkut sistem energi, transportasi dan sarana produksi pertanian 
(3)    Pengembangan Kawasan Permukiman perdesaan dilakukan dengan mengembangan pusat-pusat pengembangan kawasan perdesaan dengan menghindari terjadinya degradasi kawasan perdesaan sebagai kawasan pusat produksi. Kawasan sentra pertanian dan perkebunan diarahkan secara merata pada tiap-tiap kecamatan sesuai potensi komodiats unggulannya. 
(4)    Mengembangkan pusat-pusat perdesaan dalam kerangka cluster pengembangan komoditas unggulan pertanian dan perkebunan sesuai dengan konsep pengembangan agroindustri yang akan dikembangkan di wilayah ini. 

Untuk rencana kawasan permukiman perkampungan di Kabupaten Pegunungan Bintang direncanakan di seluruh kampung.
Rencana pengembangan sarana ekonomi di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang diarahkan pada pengembangan fasilitas perdagangan dengan skala pelayanan kabupaten di Kota Oksibil serta beberapa wilayah ibu kota Distrik. Pengembangan ini diharapkan dapat mendorong terjadinya kegiatan ekonomi dengan skala yang lebih besar. Keberadaan kegiatan ini akan memberikan kontribusi terhadap kegiatan ekonomi yang lebih luas apabila tersedianya fasilitas perdagangan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk dan secara luas dapat mencakup semua wilayah di Kabupaten Pegunungan Bintang. 
Untuk rencana 20 (dua puluh) tahun mendatang, Kabupaten Pegunungan Bintang merencanakan kawasan peruntukan perdagangan dan jasa terbagi menjadi: 
1)    Kawasan perdagangan dan jasa skala regional yang terdapat di Oksibil, Iwur, Teiraplu, Bias, dan Batom.
2)    Kawasan perdagangan dan jasa skala lokal yang tersebar di seluruh wilayah.

KAWASAN PERUNTUKAN LAINNYA

Kawasan peruntukan lainnya di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan. Hal ini mengingat Kabupaten Pegunugan Bintang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Negara PNG. 
Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan tersebar di distrik-distrik yang berbatasan dengan Negara PNG yaitu di Distrik Murkim, Mofinop, Batom, Oksamol, Tarup dan Iwur. Kawasan pertahanan dan kemanan yang utama akan dikembangkan di Batom yang merupakan Pusat Kegiatan Strategis Nasional Pertahanan dan Keamaman. Batom akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana pertahanan dan keamanan. Untuk bagian selatan kabupaten akan dikembangkan kawasan pertahanan dan keamanan di Marantikin Distrik Tarup. Pembangunan sarana pertahanan dan kemanan adalah:
1.    Komando Distrik Militer (Kodim) di Distrik Batom;
2.    Kantor Kepolisian Resort (Polres) di Distrik Oksibil;
3.    Kantor Rayon Militer (Koramil) di distrik yang berbatasan langsung yaitu Distrik Murkim, Mofinop, Batom, Oksamol, Tarup dan Iwur. Kiwirok, Okbibab, dan Oksibil;
4.    Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) di distrik yang berbatasan langsung yaitu Distrik Murkim, Mofinop, Batom, Oksamol, Tarup dan Iwur. Kiwirok, Okbibab, Oksibil, Batom. dan Teiraplu; 
5.    Pos-Pos Pengamanan Perbatasan di kampung dalam distrik yang berbatasan. 
Berdasarkan penjelasan diatas, maka rencana pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Pegunungan bintang dapat dilihat pada gambar 4.2. Rencana pola ruang Kabupaten Pegunungan Bintang tersaji dalam Tabel 4-1 dan Gambar 4.2.

Tabel 4.1 Rencana Pola Ruang Kabupaten Pegunungan Bintang

No

Klasifikasi Rencana Pola Ruang

Sebaran Kawasan

Luas (km2)

%

1

Kawasan Lindung

     

Kaw. Hutan Lindung

Bagian utara dan selatan Kecuali Distrik Aboy, Mofinop, Nongme, Okbab, Okbibab, Okhika, dan Weime

5699.46

36,34

Kaw. Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya:

 

Suaka Marga Satwa Mamberamo Foja dan Jayawijaya

Bagian tengah di distrik Aboy, Alemsom, Batani, Batom, Bime, Borme, Eipumek, Kiwirok, Kiwirok Timur, Nongme, Okaom, Okbab, Okbape, Okbemtau, Okbibab, Okhika, Oklip, Oksop, Pamek, dan Weime.

4562.84

29,09

Kaw. Perlindungan Setempat

Seluruh distrik

509.18

3,25

2

Kawasan Budidaya

     
 

Hutan Produksi Tetap

Distrik Aboy, Alemsom, Batom, Borme, Iwur, Jetfa, Kiwirok Timur, Mofinop, Murkim, Okbemtau, Tarup, dan Teriaplu

2320.40

14,80

 

Hutan Produksi Terbatas

Alemsom, Awimbon, Batom, Iwur,Jetfa, Mofinop, Murkim, dan Tarup.

1328.34

8,47

 

Hutan Produksi Konversi

Distrik Iwur, Oksibil, Awimbon, dan Alemsom

489.84

3,12

 

Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura

Kawor, Awimbon, dan Alemsom

249.08

1,59

 
 
 
 
 

Perkebunan/Tanaman Tahunan

Kawor

277.24

1,77

Permukiman

Seluruh distrik

246.61

1,57

Total

15.683

100

Sumber : Hasil Rencana, 2011
 
 
Gambar 4.2 Peta Kawasan Budidaya
 
 
Gambar 4.3 Peta Rencana Pola Ruang 
 
 

INFO DUNIA AGRIBISNIS


Perkembangan dunia agribisnis Indonesia sangatlah cepat, dibawah ini adalah rangkuman informasi terkait seputar agrobisnis Indonesia selengkapnya :

- Informasi Usaha Peternakan di Indonesia

- Kiat Sukses Peternakan Ayam

- Tips Beternak Lele