Kesehatan

BIDANG KESEHATAN
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator status kesehatan merupakan salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan per kapita. Dengan demikian pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya utama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya mendukung percepatan pembangunan di Kabupaten Pegunungan Bintang.
Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang masih jauh dari rata-rata penduduk Indonesia, namun pemerintah mempunyai komitmen yang kuat dalam meningkatkan sarana prasarana dan pelayanan kesehatan. Seiring dengan masih terbatasnya sarana prasarana kesehatan maka pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi kebutuhan yang mendesak. Hal ini mengingat semakin pentingnya pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Pembangunan Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Polindes di setiap distrik juga merupakan kebutuhan yang mendesak. 
Keberadaan tenaga medis dan paramedis menjadi faktor utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas. Tantangan terbesar Pemerintah adalah bagaimana melakukan pengadaan dokter umum, dokter spesialis, bidan, serta paramedis lainnya seperti apoteker dan petugas laboratorium. Adapun pemberian beasiswa maupun ikatan dinas pendidikan bagi tenaga medis dan paramedis dirasakan menjadi alternatif terbaik untuk meningkatkan jumlah dan pemerataan tenaga kesehatan khususnya bagi putra/putri asli Pegunungan Bintang. Selain itu, pengembangan sarana dan prasarana kesehatan juga sangat dibutuhkan guna meningkatkan keterjangkauan pelayanan kesehatan. 
Kabupaten ini pun masih digolongkan dalam kriteria sangat terpencil yang ditetapkan dalam Keputusan Bupati Pegunungan Bintang. Kriteria ini mengarah kepada Permenkes Nomor 949 dan 1239 Tahun 2007 sebagai dasar penetapan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan RS) biasa, terpencil dan sangat terpencil. Dasar penetapan kriteria sangat terpencil ini adalah : kondisi geografis, akses transportasi, serta sosial-ekonomi. Berdasarkan penetapan data RISKESDAS 2007, Kabupaten Pegunungan Bintang termasuk dalam status DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan).
Adapun pelayanan kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang masih mengandalkan moda transportasi udara, karena titik sasaran pelayanan kesehatan yang masih sukar dijangkau dengan perjalanan darat hingga menyulitkan program pelayanan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kab. Pegunungan Bintang telah dan terus berupaya untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang jauh dari ibukota kabupaten, antara lain dengan cara: Mengadakan pelatihan-pelatihan bagi perawat, bidan, dan kader; Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas; Penempatan dokter PTT;  Pelayanan dokter terbang yang menjangkau setiap kampung yang berada di seluruh penjuru wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang.
 
Hingga saat ini, dengan berbagai keterbatasan sumberdaya dan tantangan medan yang sangat berat, telah dilaksanakan berbagai program dan kegiatan pelayanan kesehatan dalam upaya memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat. Beberapa capaian pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan, antara lain :
1. Pendirian Rumah Sakit Umum Oksibil. 
2. Pembangunan dan peningkatan prasarana kesehatan, kondisi saat ini jumlah Puskesmas Perawatan 4 unit, Puskesmas 25 unit dan Puskesmas Pembantu 6 unit.
3. Pengadaan peralatan medis dan non medis.
4. Pengadaan obat.
5. Rujukan.
6. Pembangunan rumah tenaga medis dan paramedis.
7. Pelatihan bagi perawat, bidan dan kader.
8. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas melalui penempatan dokter PTT.
9. Pelayanan dokter terbang yang menjangkau setiap kampung di seluruh penjuru wilayah kabupaten.
10. Penyuluhan kesehatan

Mengenai penyakit HIV/AIDS saat ini merupakan salah satu ancaman terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat, dimana  Kabupaten Pegunungan Bintang termasuk daerah dengan jumlah penderita yang cukup besar. Berbagai strategi, program dan kegiatan telah disusun dan dilaksanakan dalam upaya meminimalisir dan mencegah perkembangan virus HIV/AIDS di masyarakat. 

Tabel 4.2. Daftar Perkembangan Jumlah  Penderita HIV/AIDS Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2009-2012
 

NO

TAHUN

JUMLAH PASIEN REAKTIF

KLASIFIKASI PASIEN REAKTIF

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

MENINGGAL

1

2009

5

2

3

1

2

2010

23

10

13

6

3

2011

9

3

6

2

 

TOTAL

37

15

22 

9

 
Strategi yang dilaksanakan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, antara lain :

1. Menjalin koordinasi dengan stakeholder terkait antara lain: Pemda/Dinas Kesehatan, RSUD, KPAD
2. Melibatkan organisasi kemasyarakatan (gereja, LSM, lembaga adat, pemuda, perempuan dll) dalam penyebarluasan informasi HIV/AIDS.  
3. Pelaksanaan sosialisasi/penyuluhan secara berkala setiap 3 bulan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan penyebaran pamflet. 
4. Peningkatan SDM medis untuk penanganan HIV/AIDS.
5. Pengambilan sampel darah (VTC) dari Pasien yang terduga HIV/AIDS
6. Pemberian obat bagi penderita HIV/AIDS
7. Penanganan secara intensif dengan menempatkan penderita HIV/AIDS di Rumah Singgah/Ruang Isolasi.
8. Bagi penderita berat dirujuk ke rumah sakit rujukan yaitu RS Dian Harapan, RS Abepura dan RS Dok II.
9. Pengobatan Lanjutan dilaksanakan di RSUD Oksibil.

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan antara lain :
1. Masih kurangnya tenaga dokter untuk melakukan pelayanan kesehatan.
2. Luas wilayah Kab. : 15.583 km2 dengan jumlah dokter PTT : 24 orang, maka : 1 dokter PTT bertanggung jawab menaungi wilayah pelayanan kesehatan rata – rata seluas : 653,45 km2.  
3. Jumlah penduduk Kab. Pegunungan Bintang  : 105.897 orang, maka 1 dokter PTT bertanggung jawab untuk melakukan pelayanan kesehatan  terhadap : 4412,2 orang.
4. Mahalnya transportasi udara menjadi kendala dalam melakukan pelayanan secara optimal kepada masyarakat. Rata-rata harga penerbangan ke distrik dengan pesawat misionaris : ± Rp. 20 juta satu kali terbang. 

INFO DUNIA AGRIBISNIS


Perkembangan dunia agribisnis Indonesia sangatlah cepat, dibawah ini adalah rangkuman informasi terkait seputar agrobisnis Indonesia selengkapnya :

- Informasi Usaha Peternakan di Indonesia

- Kiat Sukses Peternakan Ayam

- Tips Beternak Lele