Infrastruktur

BIDANG INFRASTRUKTUR
Pembangunan prasarana wilayah diarahkan untuk menunjang berbagai aktivitas ekonomi dan pelayanan sosial bagi masyarakat luas, terutama pada permukiman-permukiman yang terisolasi. Selain itu juga bertujuan untuk memudahkan hubungan antar tempat sehingga memungkinkan mobilitas faktor produksi, barang dan jasa secara efektif dan efisien. Infrastruktur dalam kerangka pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang sangat penting mengingat kondisi medan yang berat dan posisi strategisnya di bagian tengah Pulau Papua yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. 
Sesuai dengan kondisi medan, moda transportasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan aksesibilitas barang dan orang adalah moda transportasi udara dan sungai. Namun demikian, dukungan moda transportasi darat juga sangat dibutuhkan terutama untuk hubungan antar distrik atau antar permukiman. Berdasarkan kondisi tersebut maka pembangunan infrastruktur terutama yang berkaitan dengan peningkatan aksesibilitas pembangunan ekonomi dalam wilayah dan peningkatan aksesibilitas kegiatan ekonomi ke luar wilayah dilaksanakan melalui upaya peningkatan kualitas layanan sarana dan prasarana perhubungan darat, sungai dan udara, peningkatan dan pemeliharaan prasarana jalan dan jembatan, serta peningkatan layanan pos dan telekomunikasi. 
Sebagian besar wilayah Pegunungan Bintang sangat terisolir, baik secara internal maupun eksternal. Kondisi medan yang sangat berat menyebabkan hubungan antar distrik dan antara kabupaten dengan kabupaten-kabupaten tetangga dan Ibukota Provinsi hanya mengandalkan transportasi udara/pesawat dengan biaya yang cukup tinggi. Hampir seluruh jaringan jalan masih berupa jalan tanah yang seringkali tertutup oleh hutan dan semak belukar. Belum terbangunnya sistem transportasi wilayah yang utuh dan terintegrasi dan minimnya jaringan jalan, merupakan salah satu akar permasalahan di Kabupaten Pegunungan Bintang yang menyebabkan tidak optimalnya pemanfaatan sumberdaya alam, belum berkembangnya sektor-sektor perekonomian, dan tidak meratanya pelayanan fasilitas umum (listrik, air bersih, sanitasi, dan sebagainya). 
Keterbatasan transportasi berdampak terhadap tingkat kemahalan harga barang di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. Selain itu juga diambil langkah dan kebijakan strategis dalam rangka upaya untuk menekan atau menurunkan harga barang, yaitu dengan meningkatkan kapasitas berbagai bandar udara yang tersebar di Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang sehingga dapat didarati pesawat yang lebih besar, dan kebijakan pemberian subsidi angkutan bahan kebutuhan pokok. Namun demikian penurunan harga barang belum dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat yang masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Pembukaan jalan darat ruas Oksibil-Tanah Merah merupakan salah satu alternatif jawaban untuk dapat menurunkan harga barang secara signifikan dan upaya percepatan pembangunan di kawasan tertinggal dan terisolir khususnya di Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. 
 Kondisi infrastruktur khusus transportasi udara pada awal tahun 2003 sangat memprihatinkan karena Bandara Oksibil sebagai Bandara utama kabupaten masih berkonstruksi rumput yang hanya dapat didarati pesawat jenis Twin Otter sedangkan untuk daerah pedalaman (distrik) hanya 4 lapangan terbang yang dapat didarati pesawat Pilatus Porter yang hanya dapat mengangkut 7 orang penumpang, yaitu lapangan terbang Okbibab, Borme, Oklip dan Batom.
Pada tahun 2005 pembangunan transportasi udara mulai ditangani serius dan bertahap sehingga Bandara Oksibil s/d tahun 2007 mulai didarati pesawat udara jenis Dash-7 yang dapat mengangkut bahan bangunan, bahan pokok dan penumpang. Demikian juga lapangan terbang di 30 distrik dan kampung sudah dapat didarati pesawat udara. Bandara yang sudah berkonstruksi aspal yaitu Oksibil, Borme, Iwur, Batom, Kiwirok dan Luban.
Di bidang telekomunikasi dan informatika kondisinya juga masih sangat tertinggal. Distrik yang memiliki SSB dapat menyampaikan berita lewat SSB sedangkan yang lainnya secara estafet dari kampung ke kampung  selanjutnya ke distrik yang memiliki SSB. Pada tahun 2004 mulai dibangun jaringan TELKOMSEL di Oksibil. Untuk mengatasi ketertinggalan informasi dari kampung ke distrik dan dari distrik ke ibukota kabupaten maka secara bertahap distrik-distrik dilengkapi dengan SSB dan telepon satelit. Pada tahun 2009  dan 2010 di bangun jaringan TELKOMSEL di Kiwirok dan Batom. Tahun 2013 akan dibangun jaringan di Iwur, Teraplu dan Tinibil untuk membuka keterisolasian informasi.  Pada tahun 2007 juga telah dibangun menara TVRI Pegunungan Bintang di Oksibil sebagai sarana informasi bagi masyarakat di Kota Oksibil. 
Dengan kondisi tersebut Pemerintah Kabupaten telah dan terus melaksanakan dan mengupayakan berbagai kegiatan pembangunan khususnya bidang infrastruktur dalam rangka meningkatkan aksesibilitas wilayah. Sampai tahun 2012 kegiatan strategis yang telah dilaksanakan, antara lain:
1. Peningkatan Bandara Oksibil. Runway 1.400m x 30m, bisa didarati pesawat jenis Dash 7 dan ATR-42. Termasuk pengembangan sarana pendukung, antara lain pembangunan VIP Room Bandara Oksibil dan pengadaan peralatan navigasi.
2. Peningkatan dan pembukaan Bandara Perintis sebanyak 65 buah yang tersebar di 34 distrik. 
3. Penyiapan pelayanan transportasi udara antar distrik, berupa pembangunan Sub Base dimaksudkan untuk menghadirkan beberapa pesawat yang ber-homebase di Oksibil, sehingga dapat mempercepat pelayanan arus barang dan penumpang secara kontinyu khususnya untuk mengangkut produk-produk pertanian dari distrik ke ibukota kabupaten dan sebaliknya.  
4. Pada tahun 2011, jumlah penumpang umum yang datang melalui Bandara Oksibil berjumlah 29.500 orang, dan berangkat 12.088 orang. Angka ini meningkat pesat dibandingkan dengan tahun 2005 sebanyak 4.204 orang. Mobilitas penduduk ini masih perlu ditingkatkan, karena secara tidak langsung akan mempengaruhi perekonomian masyarakat.
5. Pembangunan jalan dalam Kota Oksibil.
6. Pembangunan Jalan Kabiding-Kutdol sepanjang 6,7 km.
7. Pembangunan Jalan Oksibil – Kawor - Iwur – Mindiptana sepanjang 23 km.
8. Pembangunan Jalan Lokasi III – Serambakon sepanjang 16 km.
9. Pembangunan Jalan PKT – Dabolding sepanjang 1 km.
10. Pembangunan Jalan poros desa di 38 desa tersebar di 10 distrik sepanjang 152 km.
11. Pembangunan  laringan air bersih di Kota Oksibil terdiri dari pipa primer 5.300m, pipa sekunder 5.000m, 1 buah intake dan 1 buah reservoir. 
12. Pembangunan jaringan air bersih perdesaan.
13. Pembangunan jaringan listrik dan pengadaan 1 unit genset 100 KVA di Kota Oksibil.
14. Pengadaan Alat-alat berat 2 set terdiri dari 3 unit escavator PC200-7, 2 unit bulldoser D85SS, 2 unit greder, 2 unit bomag dan 2 unit whell loader.
15. Telah dibangun 1.169 unit rumah masyarakat tersebar di berbagai distrik.

Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur antara lain :
1. Kondisi wilayah kabupaten yang terisolasi tanpa akses jalan darat menyebabkan mobilisasi peralatan berat untuk membuka akses jalan harus diangkut dengan pesawat udara sehingga biaya mobilisasi menjadi sangat mahal. 
2. Kondisi geografis wilayah yang bergunung-gunung dengan lereng yang terjal menjadi tantangan dalam pembangunan infrastruktur dan pelayanan pemerintahan lainnya. 
3. Distribusi penduduk yang menyebar di seluruh wilayah kabupaten menyebabkan pembangunan infrastruktur kurang efisien dan membutuhkan anggaran yang lebih besar. 

D. BIDANG PEMBERDAYAAN EKONOMI KERAKYATAN
1. Pembinaan Pengusaha Asli Papua
Orang asli Papua yang dapat dikategorikan pengusaha sukses di Kabupaten Pegunungan Bintang saat ini masih sangat kurang. Hal ini disebabkan karena kalah bersaing dengan pengusaha Non Papua dalam hal memenuhi persyaratan yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 155, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5334), dalam hal kurangnya permodalan dan kurangnya dukungan peralatan berat.
Sampai saat ini, jumlah pengusaha di Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai 132 orang meliputi 130 usaha konstruksi dan 2 usaha jasa konsultansi. Sedangkan pengusaha asli Papua sebanyak 107 orang. Yang telah berhasil 20 orang dan 30 orang sedang berkembang. 
Dengan diberlakukannya Peraturan Presiden Nomor 84 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/jasa Pemerintah Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, dimana PERPRES dimaksud memberikan kesempatan dan peran yang lebih besar kepada orang asli Papua dalam pengadaan barang/jasa pemerintah yang dilakukan di wilayah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, maka diharapkan ke depan akan muncul banyak orang asli Papua menjadi pengusaha sukses di Kabupaten Pegunungan Bintang. 

2. Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Kabupaten Pegunungan Bintang juga merupakan suatu Kabupaten yang  memiliki areal lahan tidur yang sangat luas dengan tingkat kesuburan lahannya sangat tinggi sehingga sangat potensial untuk pengembangan tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan darat.
Tanah di Kabupaten Pegunungan Bintang sebagian besar bertekstur halus dengan kedalaman efektif 51-100 cm. Topografinya didominasi oleh bukit-bukit dan pegunungan di bagian tengah, sedangkan dibagian Utara dan Selatan hanya sebagaian kecil yang merupakan dataran rendah. Pada wilayah dataran rendah banyak dipengaruhi oleh endapan sungai sehingga sering dijumpai jenis tanah Aluvial Kolovial dan Gleisol . Pada daerah landai ditemukan jenis tanah Kombisol  dengan sifat tanah yang masam dan basah. Pada daerah-daerah pegunungan yang curam sering ditemukan singkapan-singkapan batuan dan jenis tanah  Litosol. Sedangkan pada daerah bergelombang dengan jenis tanah Potsonok dan Mediten.
Tingkat kesuburan tanah dari masing-masing jenis tanah tersebut tergantung dari kedalaman lapisan organik yang dipengaruhi oleh vegetasi di atasnya.

a. Lahan Pertanian
Pada umumnya lahan pertanian masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang tersebar pada lereng-lereng gunung sampai pada dataran rendah dan daerah aliran sungai. Daerah lereng banyak disukai masyarakat untuk membuka kebun karena daerah ini tidak dapat tergenang air sebagai akibat dari curah hujan yang tinggi, sehingga mudah kering dan gampang dibakar pada saat musim kemarau. Sebagian masyarakat yang bermukim di dataran rendah membuka kebun di daerah aliran sungai karena daerah tersebut mempunyai tingkat kesuburan tanah yang tinggi.
Pada daerah bagian utara dan selatan Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan dataran rendah sehingga sangat cocok untuk mengembangkan tanaman pangan dan hortikultura lainnya yang sesuai dengan dataran rendah. Daerah dataran rendah ini juga sangat cocok untuk tanaman perkebunan seperti kelapa, kelapa sawit, coklat, kopi robusta dan tanaman jarak.
Sedang pada bagian tengah merupakan pegunungan sehingga masyarakat bermukim dan melakukan aktivitas pertanian di lereng-lereng gunung dan hulu sungai. Selain cocok untuk tanaman pangan juga daerah pegunungan ini juga sangat cocok untuk tanaman kopi arabika. Potensi lahan pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang dapat dilihat pada tabel. 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1 : Arahan pengembangan pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang
 

Sim-bol

Komoditas

Luas

Utama

Alternatif

Ha

%

Tanaman Pangan dan hortikultura, Lahan Basah, Dataran Rendah

 

 

A.1

Padisawah, sagu, jagung

Pisang, jeruk, sayuran, kedelai

15.018

1,02

Tanaman Pangan dan hortikultura, Lahan Basah, Dataran Tinggi

 

 

A.2

Padisawah, kedelai, jagung, sayuran

Pisang, jeruk

66

0,01

Tanaman Pangan dan Hortikultura, Lahan Kering, Dataran Rendah

 

 

B.1.1

  B.1.2

Padigogo, jagung, ubijalar

Padigogo, jagung, kedelai, ubijalar

Ubikayu, nangka, rambutan, sayur, matoa

Kacang tanah, sayuran, nangka, matoa

66.776

 

17.158

4,55

 

1,17

Tanaman Pangan dan Hortikultura, Lahan Kering, Dataran Tinggi

 

 

B.2.1

B.2.2

Sayuran, jagung, kedelai, bawang merah, ubi jalar, kacang tanah

Jagung, kedelai, ubijalar, kacang tanah, sayuran

Wortel, kentang, asparagus, kol

Alpokat, markisa

402

573

 

0,03

0,04

Tanaman Tahunan, Lahan Kering, Dataran Rendah

 

 

C.1.1

C.1.2

C.1.3

C.1.4

C.1.5

Kelapa sawit, karet

Karet, sengon, akasia

Kakao, kopi robusta, cengkeh

Kakao, kopi robusta

Kopi robusta, cengkeh, kakao

Lada, sengon, akasia, jagung

Kelapa sawit, meranti, keruing, kapur

Ubijalar, jagung, sengon

Sengon, meranti, keruing, kapur

Markisa, kayumanis

166.506

120.904

 

12.105

124.509

6.144

11,34

8,24

 

0,82

8,48

0,42

Tanaman Tahunan, Lahan Kering, Dataran Tinggi

 

 

C.2.1

C.2.2

C.2.3

Kopi arabika, kayumanis

Kopi arabika, kayumanis

Kopi arabika, teh

Markisa, alpokat, the

Eucalyptus, pinus

Markisa, alopkat, jagung, ubijalar

24.346

30.517

1.727

1,66

2,08

0,12

Tanaman Budidaya Konservasi, Lahan Kering, Dataran Tinggi

 

 

D.2

Ubijalar, kopi, sayuran

Teh, kayumanis, eucalyptus, pinus

106.242

7,24

Kawasan Lindung

 

 

KL

KK

Vegetasi alami

Vegetasi alami

 

32.207

742.155

2,19

50,54

Penggunaan Lain

 

 

X1

Ekscarpment

 

733

0,05

Jumlah

1.468.089

100,00

Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

Dengan kondisi lahan tersebut maka sektor pertanian,  perikanan dan perkebunan dapat dikatakan telah menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang cukup signifikan dibandingkan dengan sektor peternakan dimana sektor perternakan mengalami stakna baik dilihat dari jumlah populasi dan produksi terutama jenis ternak sapi, kerbau dan kambing/domba namun jenis ternak babi secara populasi dan produksi setiap tahun mengalami peningkatan walaupun belum menunjukkan hasil yang signifikan sehingga masih dipandang perlu untuk menambah populasi babi karena terkait dengan budaya bakar batu masyarakat setiap adanya acara adat dan sebagai mas kawin.  

b. Tanaman Pangan dan Hortilkultura.
Jenis-jenis tanaman pangan dan hortikultura yang telah ada dan dibudidayakan oleh masyarakat tani di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah :
1) Tanaman Pangan
Tanaman pangan seperti ubi jalar, ubi kayu, talas, jagung dan padi ladang, kacang tanah dan kedelai. Perkembangan tanaman pangan dari tahun ke tahun terus meningkat. Luas panen tanaman pangan pada tahun 2012 seluas 5.433 Ha dan pada tahun 2012 seluas 5678 Ha atau terjadi peningkatan sebesar 4,5%. Produksi tanaman pangan pada tahun 2011 adalah sebesar 55.062 ton dan pada tahun 2012 sebesar 65395 ton atau naik sebesar 18,76%. Produksi rata-rata perhektar pada tahun 2011 sebesar 10,14 ton/ha  dan pada tahun 2012 sebesar 11,51ton/ha atau naik sebesar 13,51%. Luas panen, produksi dan rata-rata produksi tanaman pangan tahun 2011 dan tahun 2012 dapat dilihat dari tabel 4.2.

 
Tabel 4.2 : Luas panen, produksi dan rata-rata produksi 
tanaman pangan tahun 2011-2012

 

No

 

 

 

Jenis

Komoditi

Tahun 2011

Tahun 2012

Luas Panen (ha)

  Produksi (ton)

Rata-rata Produksi (ton/ha)

Luas Panen (ha)

Produksi (ton)

Rata-rata Produksi (Ton/ha)

1

2

3

4

5

6

7

8

 

Padi sawah/lading

Jagung

Ubi Kayu

Ubi Jalar

Kac. Tanah

Kac. Kedele

Keladi dan umbi lainnya

Kac. Hijau

110

96

122

4.839

93

37

123

13

175

156

1.221

52.050

157

58

1.232

13

1,59

1,62

10,01

10,76

16,88

15,67

10,016

1,00

224

109

160

4.839

130

42

161

13

 

390

129

2.463

60.479

194

94

1.631

15

 

1,74

1,18

15,40

12,50

1,49

2,40

10,13

1,15

 

 

Jumlah

5.433

55.062

10,14

5678

65395

11,51

 
Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

2) Tanaman sayur-sayuran
Tanaman sayur-sayuran antara lain sawi, kol, bayam, cabe, buncis, wortel, bawang daun, bawang merah, bawang putih, ketimun, terong, tomat, kacang panjang, labu siam, dan kangkung. Produksi tanaman sayur-sayuran pada tahun 2011 sebesar 1.809 ton dan pada tahun 2012 sebesar 2.415 ton atau naik sebesar 33,50%, Peningkatan produksi sayur-sayuran yang paling menonjol yaitu sayuran kol/kobis sebesar 68,88% dibandingkan dengan produksi sayur-sayuran yang lainnya. Produksi sayur-sayuran pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 : Produksi beberapa jenis sayur-sayuran 
tahun 2011-2012
 

No

Jenis Komoditas

Tahun 2011 Produksi (ton)

Tahun 2012 Produksi (ton)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Bawang Merah

Bawang Putih

Kentang

Kubis

Kol Kembang

Tomat

Ketimun

Terung

Kac. Panjang

Petsai/Sawi

Kac. Merah

Buncis

Labu Siam

Kangkung

Bayam

Wortel

Bawang Daun

Cabe

64

54

103

241

37

71

88

83

77

196

-

148

231

45

88

99

80

104

83

59

147

407

54

100

137

130

98

233

-

169

278

47

109

137

95

132

 

 

1.809

2.415

Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

3) Tanaman buah-buahan
Tanaman buah-buahan seperti jeruk manis, nenas, pisang, nangka, jambu biji, terong belanda, alpokat, mangga dan pepaya. Produksi tanaman buah-buahan pada tahun 2011  adalah 717 ton dan pada tahun 2012 sebesar 1.025 ton atau naik sebesar  42,96% dari seluruh jenis buah-buah yang mengalami kenaikan produksi yang sangat menonjol adalah buah nenas sebesar 147,45% sedang untuk buah alpokat dan mangga masing-masing mengalami penurunun produksi sebesar 10% dan 16% hal ini dikarenakan terjadinya sereangan hama ulat daun. Untuk buah-buah seperti rambutan, sirsak, durian, belimbing, salak, nangka, jambu air baru dimulai pembudiyaannya sedang untuk buah melon semangka belum pernah dilakukan uji coba tanam. Produksi tanaman buah-buahan tahun 2011 dan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut :

Tabel 4.4. : Produksi beberapa jenis tanaman buah-buahan tahun 2011-2012
 

No.

Jenis Komoditas

Tahun 2011 Produksi (ton)

Tahun 2012 Produksi (ton)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Pisang

Nenas

Alpokat

Mangga

Rambutan

Sirsak

Jambu Biji

Sukun

Durian

Pepaya

Belimbing

Salak

Nangka

Jambu air

Jeruk Siam

Semangka

Melon

Markisa

Duku

Terong Belanda

416

47

30

6

-

-

37

4

-

41

-

-

-

-

65

-

-

41

-

26

566

121

27

5

-

-

58

27

-

54

-

-

-

-

79

-

-

58

-

30

 

Jumlah

717

1.025

 
Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

c. Peternakan
Beberapa jenis ternak yang sudah ada dipelihara oleh masyarakat adalah babi, ayam  buras, kelinci, itik, kerbau dan sapi.Populasi ternak dari tahun ke tahun terus meningkat. Populasi ternak tahun 2011 sebanyak 154.552 ekor dan tahun 2012 sebanyak 172.118 ekor atau terjadi kenaikan populasi ternak sebesar  11,36%. Produksi daging tahun 2011 sebesar 434.306 Kg dan pada tahun 2012 sebanyak 6.304.445 kg atau menurun sebesar 45,90%. Kenaikan populasi dan produksi yang paling menonjol  pada ternak sapi yang mencapai 112,26%  namun hal ini belum sebanding deng luas areal yang tersedia serta jumlah penduduk yang ada, sedang untuk ternak kambing kenaikannya tidak cukup signifikan sebesar 6,18%. Populasi dan produksi daging ternak menurun jenisnya tahun 2011-2012 dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5: Populasi ternak dan Produksi daging ternak menurut jenisnya tahun 2011-2012
 

       No.

Jenis Ternak

Tahun 2011

Tahun 2012

Populasi (ekor)

Produksi (Kg)

Populasi (ekor)

Produksi (Kg)

1

2

3

4

5

6

7

8

Sapi

Kerbau

Kuda

Kambing

Domba

Kelinci

Babi

Ayam

Entok/itik

163

4

-

194

1.064

64.899

73.899

4.329

145

-

-

45

25

2.283.517

36.949

275

346

6

-

206

1.933

65.808

77.558

9.261

298

-

-

107

332

2.824703

38.529

476

 

Jumlah

144.552

2.320.956

155.118

2.834.445

 
Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

Dengan memperhatikan data di atas  produksi daging sapi dan kambing  mengalami kenaikan yang cukup menggembirakan  yaitu rata-rata hampir 100% ditahun 2012 namun dari segi jumla populasi masih memprihatinkan tidak sebanding dengan luas wilayah dan jumlah penduduk  sedang untuk daging unggas dari tahun ke tahun juga terjadi peningkatan. Pupulasi ternak unggas pada tahun 2011 adalah 78.228 ekor dan tahun 2012 sebanyak 86.819 ekor  atau naik sebesar 10,98%. Produksi daging unggas tahun 2011 sebanyak 37.224 kg dan tahun 2012 sebanyak 39.005 kg atau naik  sebesar 4.78%

d. Perikanan
Beberapa jenis ikan yang sudah ada dan telah dipelihara oleh masyarakat tani adalah ikan mas, ikan mujair/nila dan ikan lele. Luas kolam tahun 2011 adalah 261 Ha dan tahun 2012 seluas 287 ha atau naik  sebesar 1,09%. produksi ikan tahun 2011 adalah 100,90  ton dan tahun 2012 sebanyak 61,60 ton atau turun sebesar 47,96%. Luas kolam dan produksi ikan tahun 2004-2012 dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut :

 
Tabel 4.6 : Luas kolam dan produksi ikan tahun 2004-2012
 

No.

Tahun

Luas kolam (ha)

Total Produksi ikan (ton)

1

2004

47,00

21,38

2

2005

56,00

27,05

3

2006

68,00

30,31

4

2007

83,00

37,68

5

2008

105,00

47,08

6

2009

113,40

50,68

7

2010

209,00

94,27

8

2011

261,00

100,90

9

2012

287,00

61,60

 
Sumber Data: Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang Tahun 2012

Permasalahan yang dihadapi dalam mengembangan sektor pertanian di Kabupaten Pegunungan Bintang, antara lain :
a. kurangnya tenaga penyuluh, 
b. mahalnya harga bibit ternak dan 
c. mahalnya biaya pencetakan sawah. 

3. Pengembangan Tanaman Kopi
Pembangunan perkebunan di Kabupaten Pegunungan Bintang diarahkan untuk pemberdayakan ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang.
Komoditi tanaman perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten Pegunungan Bintang selama ini adalah tanaman kakao, kelapa dalam, vanili serta kopi yang menjadi primadona dan merupakan komoditas unggulan.
Luas kebun kopi di Kabupaten Pegunungan Bintang berjumlah 655 ha  terdiri dari tanaman yang sudah berproduksi sebesar 110 ha dan yang belum berproduksi sebesar 545 ha dan tersebar di beberapa distrik antara lain : Distrik  Okbibab, Okbab, Kiwirok, Kiwirok Timur, Borme, Okhika, Weime, Bime dan Pepera, dengan rata-rata produksi 500 kg/ha/tahun atau ± 55 ton/tahun dan melibatkan 375 KK.
Untuk merangsang petani agar tetap semangat dalam melakukan kegiatan penanaman kopi, pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan bekerja sama dengan koperasi pada tahun anggaran 2013 mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,3 milyar  untuk membeli dan memasarkan biji kopi dari masyarakat sebanyak 28 ton. Disamping itu sarana dan prasarana pasca panen terus dilengkapi dengan harapan agar kualitas dan kuantitas serta kontinuitas kopi dapat tetap terpenuhi  sesuai standar permintaan pasar, baik pasar nasional maupun internasional. Selain peningkatan produksi kopi melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi sarana pasca panen seperti lantai jemur, gudang penampungan hasil produksi kopi serta alat pengupas  biji  kopi basah dan kering terus dilengkapi. 
Selain itu pemerintah daerah mencanangkan gerakan menanam kopi dengan semboyan tiada hari tanpa menanam kopi. selain tanaman kopi dijadikan sebagai tanaman konservasi lahan untuk mendukung daya dukung produktivitas lahan secara berkesinambungan, tanaman kopi diharapkan menjadi salah satu komoditas yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat petani kopi sekaligus untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pegunungan Bintang. 
Permasalahan yang dihadapi dalam mengembangan komoditas kopi antara lain : Kondisi geografi daerah yang cukup berat dan bergunung-gunung menyebabkan seluruh aktivitas transportasi melalui udara sehingga mengakibatkan biaya angkut lebih mahal. 


E. BIDANG PEMERINTAHAN

1. Penanganan Sengketa Batas Wilayah
Penetapan batas wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang belum dilakukan koordinasi dengan kabupaten lain secara insentif. Berdasarkan hasil studi Tahun 2006 tentang Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, ditetapkan letak wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang secara geografis, yaitu diantara 140005’00”-141000’00’ Bujur Timur dan 3004’00-5020’00” Lintang Selatan.
Pada bulan November 2007 telah dilakukan dialog berkaitan dengan batas wilayah antara Kabupaten Pegunungan Bintang dan Kabupaten Keerom yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Papua, dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Pemerintah Kabupaten Keerom dan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang. Dialog ini masih merupakan  langkah awal untuk menghimpun data-data kongret untuk ditindaklanjuti melalui pertemuan-pertemuan berikutnya, namun sampai dengan saat ini tidak ada tindak lanjut dari pertemuan tersebut, sehingga perbatasan antara Kabupaten Pegunungan Bintang dengan Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang dengan Kabupaten Yahukimo mengarah pada sumber konflik antar kabupaten. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman dan kes adaran bersama bahwa batas antar kabupaten berpegang pada Undang-Undang Pembentukan Kabupaten dalam hal ini Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan 13 Kabupaten di Tanah Papua serta mengacu batas wilayah Kabupaten Induk sehingga dapat ditetapan pilar batas secara difinitif yang disepakati oleh kedua belah pihak, dengan demikian batas antar Kabupaten tidak menjadi sumber konflik antar daerah.
Untuk batas antar Distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang telah dilakukan penataannya dengan bekerjasama antara Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang dengan BPN Provinsi Papua untuk melakukan Pemetaan wilayah administrasi Distrik dan penentuan batas-batasnya, hal ini dilakukan dalam rangka penertiban wilayah administrasi Distrik serta untuk menghindari terjadinya konflik antar Distrik. 
Sedang untuk Hak Ulayat Masyarakat Adat Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang bekerjasama dengan BPN juga  telah melakukan pemetaan Hak Ulayat Masyarakat Adat yang baru Mencakup 2 (dua) wilayah Distrik yaitu Distrik Oksibil dan Distrik Pepera, hal ini dilakukan agar masyarakat adat mengetahui secara pasti batas wilayah hak ulayatnya masing-masing sehingga akan menghindari terjadinya konflik antar masyarakat adat di masa-masa yang akan datang.

INFO DUNIA AGRIBISNIS


Perkembangan dunia agribisnis Indonesia sangatlah cepat, dibawah ini adalah rangkuman informasi terkait seputar agrobisnis Indonesia selengkapnya :

- Informasi Usaha Peternakan di Indonesia

- Kiat Sukses Peternakan Ayam

- Tips Beternak Lele